ATTERBERG KLASIFIKASI[1]

download ATTERBERG KLASIFIKASI[1]

of 30

  • date post

    17-Oct-2015
  • Category

    Documents

  • view

    17
  • download

    1

Embed Size (px)

description

materi mekanika tanah I

Transcript of ATTERBERG KLASIFIKASI[1]

  • Atterberg Limits (Batas-batas Atterberg)

    Apabila tanah berbutir halus mengandung mineral lempung, maka tanah tersebut dapat diremas-remas tanpaa menimbulkan retakan. Sifat kohesif ini disebabkan karena adanya air yang terserap di sekeliling permukaan dan partikel lempung Atterberg mengembangkan suatu metode untuk menjelaskan sifat Konsistensi Tanah berbutir halus pada kadar air yang bervariasi. Bilamana kadar airnya sangat tinggi, campuran tanah dan air akan menjadi sangat lembek seperti cairan. Oleh karena itu atas dasar air yang dikandung tanah, tanah dapat dipisahkan ke dalam empat keadaan, yaitu: padat, semi padat, plastis dan cair, seperti yang ditunjukkan dalam gambar berikut:

    Air bertambah

    Padat (solid) Semi padat Plastis Cair

    Shrinkage limit Plastis limit Liquid limit (Batas Susut) = SL/WS (Batas Plastis) (Batas Cair) = LL/WL = PL/WP

  • Batas Cair (Liquid Limit) = LL/WL

    Batas cair adalah, kadar air tanah yang dinyatakan dalam persen dan tanah yang dibutuhkan untuk menutup goresan yang berjarak 0,5 inci (1,27 cm) sepanjang dasar contoh tanah di dalam mangkok pada 25 pukulan (N blows), yang dilakukan dengan alat casagranda. (lihat gambar). Karena sulitnya untuk menepatkan 25 pukulan tepat tanah berimpit sepanjang 0,5 inci, maka perlu dilakukan paling tidak 4 percobaan dengan kadar air yang berbeda-beda, sehingga didapatkan 4 jumlah pukulan yang berbeda pula. Dari empat peercobaan tersebut diharapkan di bawah 25 pukulan 2 contoh dan di atas 25 pukulan 2 contoh. Selanjutnya dari 4 percobaan tersebut digambar hubungan antara kadar air dan jumlah pukulan (N blows) pada kertas semi log, hubungan antara kadar air dan log N dapat dianggap sebagai suatu garis lurus, garis lurus tersebut dinamakan sebagai kurva aliran (flow curve). Kadar air yang bersesuaian dengan N = 25, yang ditentukan dari kurva aliran adalah kadar air dari tanah yang bersangkutan. Kemiringan dari garis aliran (flow line) didefinisikan sebagai indeks aliran (flow index) dan dapat ditulis sebagai berikut:

    If = (wl w2) / log (N2/N1)

  • Tabel Perhitungan Batas Cair (LL)

    Jumlah Ketukan ( N )12203036No. Cawan12345678Berat Cawan (gr)Berat Cawan+Tanah Basah (gr)Berat Cawan+Tanah Kering (gr)Berat Air (gr)Berat Tanah Kering (gr)Kadar Air (%)Kadar Air Rata-rata (%)70605244

  • Grafik Penentuan Batas Cair (LL)

    Sheet:

    1st Qtr

    2nd Qtr

    3rd Qtr

    4th Qtr

    East

    West

    North

  • Di mana:

    If: Indeks aliranw1 : Kadar air, dalam persen dari tanah yang bersesuaian dengan jumlah pukulan N1w2 : Kadar air, dalam persen dari tanah yang bersesuaian dengan jumlah pukulan N2.

    Metode Satu Titik (one Point Methode)Hasil analisis dari beberapa uji batas cair US Waterways Experiment Station, Vicksburg, Mississippi 1949. Diajukan rumus empiris untuk menentukan batas cair, yaitu :

    LL= WN(N/25) tg N = Jumlah ketukan (diharuskan antara 20-30 pukulan)WN = Kadar air, pada jumlah pukulan N.tg = 0,121, harga tersebut merupakan hasil penelitian pada kebanyakan tanah. (tidak sumua tanah mempunyai harga tg = 0,121)

  • Tabel Harga-harga (N/25)0,121N(N/25)0,12120212223242526272829300,97309790,9850,9900,9951,0001,0051,0091,0141,0181,022

  • Plastic Limit (Batas Plastis), PL

    Batas Plastis adalahkadar air tanah, yang dinyatakan dalam persen, yaitu kondisi tanah apabila digulung sampai diameter 1/8 inchi (3.2 mm) tanah menjadi retak-retak. Apabila gulungan lebih besar 3.2 mm sudah retak-retak, tanah terlalu kering dan sebaliknya apabila lebih kecil 3,2 mm baru retak tanah terlalu basah. Batas plastis merupakan batas terendah dari tingkat keplastisan suatu tanah.

    Cara pengujian batas plastis sangat sederhana, yaitu dengan menggulung coontoh tanah basah diatas kaca, hingga tepat 3,2 mm tanah menjadi retak-retak.

    Indeks PlastisitasIndeks Plastisitas (plasticity Index), disingkat PI yaitu selisih batas Cair (LL) dengan Batas Plastis.

    PI=LL-PL

  • Tabel Perhitungan Kadar Air Batas Plastis (PL)

    KeteranganNo. Sample 123No. CawanBerat Cawan (gr)Berat Cawan + Tanah Basah (gr)Berat Cawan + Tanah Kering (gr)Berat Air (gr)Berat Tanah Kering (gr)Kadar Air (%)Kadar Air Rata-rata (%)

  • Batas Susut (Shrinkage Limit), SL

    Suatu tanah akan menyusut apabila air yang dikandungnya secara perlahan-lahan hilang dalam tanah. Dengan hilangnya air secara terus-menerus, tanah akan mencapai suatu tingkat kesetimbangan dimana pengurangan air tidak menyebabkan perubahan volume.Cara pengujian batas susut (ASTM D-427).

    Tanah basah dimasukkan dalam mangkuk porselin sampai penuh kemudian diratakan, sebelumnya mangkok diberi vaselin (petrolium jelly). Berat tanah basah dalam mangkok ditentukan misal m1, kemudian dioven pata T 105oC selama 24 jam, berat tanah kering setelah di oven ditentukan misal m2. volume porselin sebagai volume tanah basah yaitu Vi, dan volume tanah kering yaitu Vf, juga ditentukan, cara menentukan volume tanah kering dengan air raksa.

    SL= wi(%)-w(%)

  • wi = Kadar tanah mula-mula sebelum dikeringkan.

    w = Perubahan kadar air (yaitu antara kadar air mula-mula dan kadar air pada batas susut)

    wi(%) = ((m1-m2)/m2) x 100%.

    M1 = massa tanah basah, sebelum dikeringkan

    M2 = massa tanah kering setelah dioven

    w (%) = (((vi-vf)w)/m2) x 100%

    Vi = Volume contoh tanah basah sebelum dioven (sam dengan volume mangkok)

    Vf = Volume tanah kering setelah dioven

    w = massa jenis air = 1 gr/cm^3 SL=(((m1-m2)/m2)x100%)-(((vi-vf) w)/m2)x100%)

  • Batas susut tanah dapat ditentukan dengan menggunakan Bagan plastisitas (Plasticity Chart), seperti yang disarankan oleh Casagrande, yaitu apabila batas cair dan indeks plastisitas tanah diketahui.Dari hubungan PI (Indeks Plastisitas) dan LL (Batas cair), pada bagan Plastisitas tentukan titik R, perpanjangg garis U (U line) dan garis A (A line) hingga berpotongan di titik B, hubungkan titik R dan B menjadi garis RB, Garis tersebut akan memotong sumbu batas cair di C. Absis dari titk C adalah perkiraan harga batas susut dari tanah bersangkutan. (lihat gambar).

    Soal 1

    Diketahi data hasil pengujian Batas Plastis da Batas Cair sebagai berikut :

    Nblows w(%)Batas Plastis (PL)=18,7 %Tentukan, Batas Cair (LL) dan Indeks 1542,0Plastisitas Tanah (PI) 2040,8 2839,1

  • KLASIFIKASI TANAH(SISTIMATIS DI LABORATORIUM)Ada 2 sistem klasifikasi tanah yang banyak dipakai yaitu :

    1.Sistem USCS2.Sistem AASHTO

    Sistem USCS :Sistem ini mengelompokkan tanah ke dalam dua kelompokbesar yaitu :

    a.Tanah Berbutir Kasar, yaitu tanah kerikil (Gravel = G) dan pasir (Sand = S) dimana kurang dari 50 % berat total contoh tanah lolos ayakan no. 200 atau ukuran butiran 0,075 mm.

  • Tanah berbutir halus, yaitu tanah lanau (Silt = M) dan lempung (Clay = C), dimana lebih dari 50 % berat total contoh tanah lolos ayakan no 200 atau diameter 0,075. Tanah butir halus ini juga ada yang mengandung organik (O). Sedangkan tanah-tanah yang mengandung banyak gambut sering disebut tanah peat dengan simbol Pt.

    Simbol-simbol lain yang digunakan untuk klasifikasi USCS adalah : W = Well graded. P = Poorly gradedL = Low plasticityH = High plasticity

  • Tanah berbutir kasar ditandai dengan simbol kelompok seperti : GW, GP, GM, GC, SW, SP, SM, SC. GW -- Cu>4 & Cc = 1 3. kalau tidak dipenuhi GPSW-- Cu > 6 & Cc = 1 3. kalau tidak dipenuhi SP.

    Untuk klasifikasi yang benar harus memperhatikan hal-hal berikut :a.% lolos # no 200 (batas butir halus dan kasar).% lolos # no 4 (batas kerikil dan pasir)Cu dan Cc, untuk tanah yg lolos # no 200, 0 12 %.LL dan PI, dimana tanah yang lolos # no 200 > 5 %.Untuk tanah yang lolos # no 200 < 5 %, hanya Cu & Cc.Untuk tanah yang lolos # no 200 > 12 % hanya LL & PI.

  • Apabila persentase yg lolos # no 200 antara 5 12 %, menggunakan simbol ganda, seperti GW-GM; GW-GC; GP-GM; GP-GC dan SW-SM; SW-SC; SP-SM; SP-SC.Untuk klasifikasi tanah berbutir halus dengan simbol, ML; CL; OL; MH; dan OH didapat dengan cara menggambar LL dan PI tanah yg bersangkutan pada bagan plastisitas (plasticity chart). Garis diagonal pada bagan plastisitas tersebut dinamakangaris A, dimana persamaan garis A adalah : PI = 0,73 (LL 20).

  • Contoh 1: Diket : hasil uji analisis butir tanah sbb : % lolos # no.10 = 100 % ; % lolos # no. 40 = 58 %;% lolos # no. 200 = 58 %;LL = 30 dan PI = 10. Klasifikasikan contoh tanah tersebut.Penyelesaian :lolos # no 200 = 58 % > 50 % ( tanah butir halus).Data cukup LL dan PI.LL = 30 % dan PI = 10 %, dalam bagan plastisitas di atas garis A dan LL < 50 %; maka termasuk jenis tanah CL.

  • SISTEM KLASIFIKASI AASHTODalam sistem AASHTO ini tanah diklasifikasikan ke dalam kelompok A-1; A-2 dan A-3 untuk tanah berbutir kasar dan A-4; A5; A-6 dan A-7, untuk tanah berbutir halus.Tanah berbutir kasar apabila lolos # no 200 35 %Tanah berbutir halus apabila lolos # no 200 > 35 %Sistem klasifikasi ini didasarkan pada kriteria di bawah ini :Ukuran Butir :Kerikil, berdiameter 2mm (# no 10) s/d 75 mmPasir, berdiameter 0,075 mm (# no 200) s/d 2 mm (# n0 10)Plastisitas :Nama berlanau dipakai apabila bagian-bagian yang halus dari tanah m