Identifikasi protein

Click here to load reader

  • date post

    11-Jul-2015
  • Category

    Documents

  • view

    202
  • download

    5

Embed Size (px)

Transcript of Identifikasi protein

PROSES PENGHILANGAN KANJI ( DESIZING )Laporan Praktikum Evaluasi Kimia Tekstil, Oleh : Ratih Rika Sugiharto (07K30028)7IDENTIFIKASI ZAT WARNA PADA SERAT POLIESTER DAN CAMPURANMAKSUD DAN TUJUANMAKSUDMengetahui jenis zat warna yang digunakan untuk mencelup kain dari serat polyester dan campuran dengan menggunakan pengujian zat warna tertentu.TUJUANMengidentifikasi zat warna pada serat polister meliputi zat warna dipersi carrier, dispersi thermosol, dispersi azo,azo, dan bejana.Mengidentifikasi zat warna pada serat campuran meliputi zat warna direk dan reaktif.TEORI DASARPada umumnya, serat polister diwarnaidengan zat warna dispersi, kation, bejana, pigmen dan zat warna yang dibangkitkan.Serat PolyesterLaporan Praktikum Evaluasi Kimia Tekstil, Oleh : Ratih Rika Sugiharto (07K30028)7n HOOCCOOH + n HOCH CH OHOHOCCOO(CH ) OnH + (2n-1) H OAsam TereftalatEtilena GlikolPoliester n HOOCCOOH + n HOCH CH OHOHOCCOO(CH ) OnH + (2n-1) H OAsam TereftalatEtilena GlikolPoliester Serat poliester merupakan suatu polimer yang mengandung gugus ester dan memiliki keteraturan struktur rantai yang menyebabkan rantai-rantai mampu saling berdekatan, sehingga gaya antar rantai polimer poliester dapat bekerja membentuk struktur yang teratur. Serat polyester berasal dari asam tereftalat dan etilena glikol yang reaksinya sebagai berikut : Poliester merupakan serat sintetik yang bersifat hidrofob karena terjadi ikatan hidrogen antara gugus OH dan gugus COOH dalam molekul tersebut. Oleh karena itu serat polierter sulit didekati air atau zat warna. Serat ini dibuat dari asam tereftalat dan etilena glikol.Serat poliester adalah suatu serat sintetik yang terdiri dari polimer-polimer linier. Serat tersebut pada umumnya dikenal dengan nama dagang dacron, teteron, terylene. Dacron dibuat dari asamnya dan reaksinya dapat ditulis sebagai berikut : nCH3COOC COOH + nHO(CH2)2OH Dimetil tereftalat Etilena glikolHO OC COO(CH2)2O H + (2n-1)CH3On Dacron Sumber : Soeprijono P, dkk. Serat-Serat Tekstil. ITT. 1972. Halaman 279.Sedangkan terylene dibuat dari dimetil ester asam tereftalat dengan etilena glikol dan reaksinya sebagai berkut :nCH3O.OCCO.OCH3 + nHO(CH2)2 OH Asam TereftalatEtilena glikol CH3O OC COO(CH2)2OH + (2n-1) H2On TeryleneSumber : Soeprijono P, dkk. Serat-Serat Tekstil. ITT. 1972. Halaman 280. Untuk dapat mendekatkan air terhadap serat yang hidrofob, maka kekuatan ikatan hidrogen dalam serat perlu dikurangi. Kenaikan suhu dapat memperbesar fibrasi molekul, akibatnya ikatan hidrogen dalam serat akan lemah dan air dapat mendekati serat. Disamping sifat hidrofob, faktor lain yang menyulitkan pencelupan ialah kerapatan serat poliester yang tinggi sekali sehingga sulit untuk dimasuki oleh molekul zat warna. Derajat kerapatan ini akan berkurang dengan adanya kenaikan suhu karena fibrasinya bertambah dan akibatnya ruang antar molekul makin besar pula. Molekul zat warna akan masuk dalam ruang antar molekul .Sifat sifat serat poliester adalah sebagai berikut ;SifatPenjelasanKekuatan dan mulurKekuatannya 4,0 6,9 g/d, mulur 11 20%.Moisture Regainkondisi standar 0,4%. Di RH 100% MR 0,6 0,8%.ModulusModulus awal tinggi. Pembebanan 0,9 g/dn poliester mulur 1 %,pembebanan 1,75 g/dn mulur2 %.Berat Jenis1,38 gram/cm3Zat kimia dan SuhuPoliester tahan asam lemah, tahan asam kuat dingin, tahan basa lemah, kurang tahan basa kuat, tahan zat oksidasi, alkohol, keton, sabun, dan zat-zat untuk pencucian kering. Larut dalam meta-kresol panas,asam trifluroasetat-orto-khlorofenol, campuran 7 bagian berat trikhlofenol dan 10 bagian fenol dan campuran 2 bagian berat tetrakhloro etana dan 3 bagian fenolZat Penggelembungmenggelembung dalam larutan 2% asam benzoat, asam salisilat, fenol dan meta-kresol dalam air; dispersi 0,5% monokhlorobenzena, p-dikhlorobenzena, tetrahidronaftalena, metil benzoat dan metil salisilat dalam air ; dispersi 0,3% orto-fenil-fenol dan para-fenilfenol dalam air.Titik LelehPada suhu 250 - 290oC dan terbakar.Sifat BiologiPoliester tahan serangga, jamur dan bakteri.Tahan SinarKurang tahan sinar tapi masih lebih baik dibanding serat lainnyaMengkeretDalam air mendidih akan mengkeret sampai 7%.Pembakarantidak meneruskan pembakaranHeat SetDimensi kain poliester dapat distabilkan dengan cara heat settingZat Warna DispersiLaporan Praktikum Evaluasi Kimia Tekstil, Oleh : Ratih Rika Sugiharto (07K30028)7Zat warna dispersi adalah zat warna organik yang dibuat secara sinteteik. Kelarutannya dalam air kecil sekali dan larutan yang terjadi merupakan larutan dispersi atau partikel-partikel zat warna yang hanya melayang dalam air. Zat warna dirpersi merupakan senyawa aromatik yang mengandung gugus-gugus hidroksi atau amina yang berfungsi sebagai donor atom hidrogen untuk mengadakan ikatan dengan gugus karbonil dalam serat. Zat warna ini dipakai untuk mewarnai serat-serat tekstil sintetik yang bersifat termoplastik atau hidrofob. Absorbsi dalam serat solid solution yaitu zat padat larut dalam zat padat. Dalam hal ini zat warna merupakan zat terlarut dan serat merupakan zat pelarut. Kejenuhannya dalam serat berkisar antara 30 - 200 mg per gram serat.Sifat Umum Zat Warna DispersiZat warna dispersi meripakan zat warna yang terdispersi dalam air dengan bantuan zat pendispersi. Adapun sifat-sifat umum zat warna dispersi adalah sebagai berikut : Zat warna dispersi mempunyai berat molekul yang relatif kecil (partikel 0.5 2 Laporan Praktikum Evaluasi Kimia Tekstil, Oleh : Ratih Rika Sugiharto (07K30028)7)Bersifat non-ionik walaupun terdapat gugus-gugus fungsional seperti NH2Laporan Praktikum Evaluasi Kimia Tekstil, Oleh : Ratih Rika Sugiharto (07K30028)7, -NHR, dan OH. Gugus-gugus tersebut bersifat agak polar sehingga menyebabkan zat warna sedikit larut dalam air. Kelarutan zat warna dispersi sangat kecil, yaitu 0.1 mg/l pada suhu 80 oLaporan Praktikum Evaluasi Kimia Tekstil, Oleh : Ratih Rika Sugiharto (07K30028)7C.Tidak mengalami perubahan kimia selama proses pencelupan berlangsung.Laporan Praktikum Evaluasi Kimia Tekstil, Oleh : Ratih Rika Sugiharto (07K30028)7Penggolongan Zat Warna DispersiBerdasarkan struktur kimianya, zat warna dispersi terbagi menjadi tiga golongan yaitu :Golongan Azo N=NNHH N Dispersol Diazo Black ASN=NNHH N Dispersol Diazo Black ASOHONHCH H CHNOOHDuranol Blue BOHONHCH H CHNOOHDuranol Blue BGolongan Antrakinon NHSO NHO NDispersol Yellow TNHSO NHO NDispersol Yellow TGolongan Difenil AminaBerdasarkan ketahanan sublimasinya, zat warna dispersi terbagi menjadi empat golongan yaitu : Golongan ALaporan Praktikum Evaluasi Kimia Tekstil, Oleh : Ratih Rika Sugiharto (07K30028)7Zat warna dispersi golongan A mempunyai berat molekul kecil, sifat pencelupannya baik kaena mudah terdispersi dan mudah masuk kedalam serat. Tersublim penuh pada suhu 120 oC. Pada umumnya dipergunakan pada pencelupan dengan metode carier dan HT/HP.Golongan BLaporan Praktikum Evaluasi Kimia Tekstil, Oleh : Ratih Rika Sugiharto (07K30028)7Ukuran molekul sedang, tersublim penuh pada suhu 180 oC. Sangat baik untuk pencelupan polyester dengan metode carrier maupun metode HT/HP (130 oC).Golongan CLaporan Praktikum Evaluasi Kimia Tekstil, Oleh : Ratih Rika Sugiharto (07K30028)7Ukuran molekulnya besar, tersublim penuh pada suhu 200 oC. Dapat dipergunakan untuk pencelupan dengan metode carrier, suhu tinggi, maupun metode thermosol dengan hasil yang baik. Golongan DLaporan Praktikum Evaluasi Kimia Tekstil, Oleh : Ratih Rika Sugiharto (07K30028)7Zat warna golongan D mempunyai berat molekul yang paling besar, sehingga mempunyai sifat pencelupan yang paling jelek karena sukar terdispersi dalm larutan dan sukar masuk ke dalam serat.Tersublim penuh pada suhu 220 oC, Zat warna ini sangat baik untuk penceluapn dengan metode suhu tinggi dan termosol. Zat Warna BejanaLaporan Praktikum Evaluasi Kimia Tekstil, Oleh : Ratih Rika Sugiharto (07K30028)7Zat warna bejana tidak larut dalam air dan tidak dapat langsung mencelup serat tanpa suatu modifikasi, oleh karena itu dalam pencelupannya harus diubah menjadi bentuk leuko yang larut. Senyawa leuko tersebut memiliki subtantivitas terhadap selulosa hingga dapat tercelup. Adanya oksidator atau oksigen dari udara, bentuk leuko yang tercelup dalam serat tersebut akan teroksiadasi kembali kebentuk semula yaitu pigmen zat warna bejana. Senyawa-senyawa leuko mempunyai warna yang lebih muda dan berbeda dengan warna aslinya. Zat warna bejana mudah terhidrolisa dalam suasana asam dan suhu tinggi, zat warna bejana stabil dalam larutan alkali. Senyawa leuko zat warna bejana golongan indigoida larut dalam alkali lemah sedangkan golongan antarkuinon hanya larut dalam alkali kuat dan hanya sedikit berubah warna dalam larutan hipoklorit. Umumnya zat warna turunan tioindigo dan karbasol warna hampir hilang dalam uji hipoklorit dan didalam larutan pereduksi warnanya menjadi kuning. Ikatan zat warna bejana dengan serat antara lain ikatan hydrogen dan ikatan sekunder (gaya-gaya van Der Waals dengan serat). Zat Warna DirekLaporan Praktikum Evaluasi Kimia Tekstil, Oleh : Ratih Rika Sugiharto (07K30028)7Zat warna direk umumnya adalah senyawa azo yang disulfonasi, zat warna ini disebut juga zat warna substantive karena mempunyai afinitas yang besar terhadap selulosa. Beberapa zat warna direk dapat mencelup serat binatang berdasarkan ikatan hydrogen. Zat warna direk umumnya mempunyai ketahanan yang kurang baik terhadap pencucian sedangkan ketahanan terhadap sinar cukup, tidak tahan terhadap oksidasi dan rusak oleh zat pereduksi.Zat Warna ReaktifLaporan Praktikum Evaluasi Kimia Tekstil, Oleh : Ratih Rika Sugiharto (07K30028)7Zat warna reaktif adalah zat warna yang dapat mengadakan reaksi dengan serat, sehingga zat warna tersebut merupakan bagian dari serat. Oleh karena itu zat warna ini mempunyai ketahanan cuci yang baik. Zat warna ini mempunyai berat molekul yang kecil, oleh karena itu kilpanya lebih baik dibandingkan dengan zat warna direk. Sifat-sifat umum : Larut dalam airBerikatan kovalen dengan serat Karena kebanyakan gugus azonya, maka zat warna ini mudah rusak oleh reduktor kuatTidak tahan terhadap oksidator yang mengandung klor (NaOCl).PRAKTIKUMALAT-ALAT YANG DIGUNAKANTabung reaksiLaporan Praktikum Evaluasi Kimia Tekstil, Oleh : Ratih Rika Sugiharto (07K30028)7Rak tabung reaksiPipet Laporan Praktikum Evaluasi Kimia Tekstil, Oleh : Ratih Rika Sugiharto (07K30028)7volumePipetLaporan Praktikum Evaluasi Kimia Tekstil, Oleh : Ratih Rika Sugiharto (07K30028)7Pengaduk kacaPembakar gasLaporan Praktikum Evaluasi Kimia Tekstil, Oleh : Ratih Rika Sugiharto (07K30028)7Gelas piala 600 mlKertas saringLaporan Praktikum Evaluasi Kimia Tekstil, Oleh : Ratih Rika Sugiharto (07K30028)7BAHAN-BAHAN YANG DIGUNAKANPengujian zat warnaPereaksiBahanGolongan INH4OH 10%NaCl 10%CH3COOH 10%Alkohol 96%NaOH 10%EterKain contoh ujiKapas putihWoolAkrilatGolongan IINaOH 10%Na2S2O4NaCl 10%Kain contoh ujiKapas putihGolongan IIINaOH 10%AlkoholNa2S2O4NaClKain contoh ujiKapas untuk naftolGolongan IVNaOH 10%H2SO4 60%(H2SO4 + Na2SO4)Kain contoh ujiWoolCARA KERJAUji Zat Warna Golongan IUji Zat Warna DirekMasukkan contoh uji kedalam tabung reaksi yang berisi 3 ml larutan ammonia 10% didihkan selama 1-2 menitContoh uji dikeluarkan (dibagi 2) masukkan NaCl dan kapas putih, wool, dan akrilat, didihkan selama 1-2 menitCuci bersih, kapas akan terwarnai tua menunjukkan zat warna direkUji Zat Warna AsamNetralkan larutan ekstraksi (zat warna direk) dengan asam sulfat 10% kemudian test dengan lakmus biru merahMasukkan kain kapas, wool, dan akrilat didihkan selama 1-2 menitWool tercelup lebih tua menunjukkan zat warna asamZat Warna BasaMasukkan contoh uji kedalam tabung reaksi yang berisi 5 ml alkohol, didihkan beberapa menitKeluarkan contoh uji, kemudian bagi dua untuk pengujian zat warna dan uji penentuanUji Zat Warna BasaUapkan alkohol sampai kering tambahkan 3 ml air, didihkan kembaliMasukkan 0,5 ml NaOH 10%, dinginkan, tambahkan 2 ml larutan eter, kocokPindahkan lapisan eter kedalam tabung reaksi lain kemudian teteskan asamasetat 10%, kocokApabila lapisan asam memberikan warna yang sama dengan contoh uji zat warna basaUji PenentuanMasukkan akrilat kedalam larutan ekstraksi zat warna dalam alkoholApabila bahan tercelupmenunjukkan zat warna basaPewarnaan kembali lapisan larutan asam asetat dengan warna yang sama dengan warna yang asli menunjukkan adanya zat warna basaUji Zat Warna Golongan IIUji Zat Warna BejanaMasukkan contoh uji kedalam tabung reaksi yang berisi 3 ml NaOH 10% didihkan sampai serat protein larutTambahkan Na2S2O4 didihkan selama 1 menitMasukkan kapas dan NaCl didihkan selama 1-2 menit, dinginkan sampai suhu kamarKeluarkan kapas dari tabung, letakkan diatas kertas saring, oksidasi kapas dengan udaraUji Zat Warna Golongan III Uji Penentuan Naftol Masukkan contoh uji kedalam tabung reaksi yang berisi 1-2 ml NaOH 10% dan 2-3 ml alcohol kemudian didihkanTambahkan 2 ml air dari Na2S2O4 didihkan kembaliSetelah warna tereduksi masukkan kapasputih dan NaCl didihkan selama 2 menit (amati perubahan warna larutannya)Dinginkan, keluarkan kapas putih tersebutBila kapas berwarna kuning dan berpendar dibawah sinar ultra lembayung, menunjukkan zat warna naftolUji Zat Warna Golongan IVUji Zat Warna Reaktif Uji Penentuan IMasukkan contoh uji kedalam tabung reaksi, tambahkan 2 ml larutan NaOH 10%,didihkanAsamkan larutan tersebut dengan larutan H2SO4 pekat ( 2-3 tetes) test dengan lakmus biruMasukka serat wool putih, didihkanPewarnaan pada serat wool menunjukkan zat warna reaktifUji Penentuan IIMasukkan contoh uji kedalam tabung reaksi yang berisi 3 ml larutan (H2SO4 dan Na2SO4) didihkanMasukkan serat wool putih, didihkanPewarnaan pada serat wool menunjukkan zat warna reaktifDATA PRAKTIKUMDilampirkan pada jurnalDISKUSIZat Warna Golongan ILaporan Praktikum Evaluasi Kimia Tekstil, Oleh : Ratih Rika Sugiharto (07K30028)7Pada pengujian ini praktikan diberikan 3 lembar kain contoh uji yang masing-masing telah dicelup dengan zat warna direk, asam, dan basa. Tugas praktikan disini adalah menentukan jenis zat warna apa yang digunakan untuk mencelup ketiga kain contoh uji tersebut. Pada pengujian ini praktikan diberikan contoh uji No 10, No 24, dan No 42 sedangkan bahan yang digunakan untuk mengidentifikasi pengujian zat warna golongan I adalah serat kapasputih, wool, dan akrilat.Pada identifikasi zat warna direk ini digunakan pereaksi Amonia 10%, setelah contoh uji dilarutkan dalam Amonia 10% dan dipanaskan maka lunturannya dicelup lagi dengan kapas putih, wool,dan akrilat dengan ditambah NaCl untuk menambah penyerapan zat warna direk pada kain kapas karena NaCl mempunyai gugus pelarut banyak. Zat warna direk akan mencelup kapas putih dengan baik atau kapas putih tercelup tua dibandingkan wool dan tidak mencelup atau sangat sedikit mencelup serat akrilat.pada pengujian zat warna direk kapas putih tercelup paling tua pada lunturan contoh uji No 10.Namun, pada contoh uji No 10 kapas putih tidak tercelup secara maksimal tetapi jelas terlihat bahwa kapas putih telah berubah warna dibandingkan dengan kapas putih sebelum dicelup dengan lunturan contoh uji No 10. Jika dibandingkan dengan contoh uji No 24 memang kapas putihnya tercelup lebih muda dibanding warna aslinya tetapi pada contoh uji No 24 serat wool tercelup paling tua diantara serat kapas putih dan akrilat. Pada contoh uji No 42 kapas putih tercelup menjadi warna biru sangat muda padahal contoh ujinya berwarna coklat.Pada identifikasi zat warna asam digunakan pelarut Asam asetat 96% sedangkan kain contoh uji yang digunakan sama seperti uji zat warna direk. Pada zat warna asam serat wool akan tercelup paling tua diantara serat kapas dan akrilat. Saat dilakukan pencelupan dengan lunturan dari contoh uji No 24 terlihat bahwa serat wool tercelup paling tua, namun pada saat dilakukan uji penentuan zat warna basa ternyata hanya lunturan contoh uji No 24 yang berwarna setelah ditambah dengan eter dan asam asetat warnanya kembali seperti semula. Hal inilah yang membuat praktikan menjadi bingung. Selanjutnya dilakukan identifikasi zat warna basa. Pada pengujian ini digunakan pelarut alkohol, NaOH 10%, asam asetat dan eter. Saat dilakukan pengujian ini terlihat bahwa setelah kapas, wool,dan akrilat dicelup dengan lunturan contoh uji No 42 menunjukkan bahwa akrilat tercelup paling tua. Namun, anehnya saat dilakukan uji penentuan dengan menggunakan eter, lunturan contoh uji No 42 malah tidak berwarna sama sekali sehingga saat lapisan eternya diambil dan ditambah dengan asam asetat maka asam asetat warnanya tidak kembali kewarna semula, warna tetap bening. Dari kejadian ini, praktikan dibingungkan oleh hasiluji yang diperoleh, pada identifikasi zat warna asam contoh uji No 24 mencelup wool paling tua, sedangkan pada identifikasi zat warna basacontoh uji No 42 mencelup akrilat paling tua. Tetapi pada saat dilakukan uji penentuan zat warna basa, saat akan ditambah eter lunturan contoh uji No 24 berwarna sedangkan lunturan contoh uji No 42 tidak berwarna (bening), sehingga pada saat ditambahkan eter maka lunturan contoh uji No 24 memberikan lapisan warna pada eter sedangkan lunturan contoh uji No 42 tetap bening. Maka, setelah eter ditambah dengan asam asetat terlihat bahwa lunturan contoh uji No 24 kembali ke warna semula tetapi lebih muda sedangkan lunturan contoh uji No 42 tetap bening. Peristiwa ini terjadi kemungkinan disebabkan karena pelunturan contoh uji No 42 kurang baik baik pada saat menggunakan pereaksi yang sudah tidak stabillagi konsentrasinya, kondisi proses yang kurang optimal atau tabung reaksi yang kurang bersih sehingga pada saat pengujian hasilnya tidak optimal.DATA PENGUJIAN IDENTIFIKASI ZAT WARNA DIREKContoh uji No 10Laporan Praktikum Evaluasi Kimia Tekstil, Oleh : Ratih Rika Sugiharto (07K30028)7Kapas tercelup tidak sempurna tetapi warnanya berbeda dengan kapas yang belum dicelup, wool terwarnai muda dan akrilat terwarnai sangat mudaContoh uji No 24Laporan Praktikum Evaluasi Kimia Tekstil, Oleh : Ratih Rika Sugiharto (07K30028)7Kapas terwarnai lebih muda daripada contoh uji, wool terwarnai paling tua dan akrilat terwarnai sangat mudaContoh uji No 42Laporan Praktikum Evaluasi Kimia Tekstil, Oleh : Ratih Rika Sugiharto (07K30028)7Kapas tercelup muda menjadi warna biru sedangkan warna contoh uji adalah coklat, wool tercelup paling tua dan akrilat tercelup sangat mudaDATA PENGUJIAN IDENTIFIKASI ZAT WARNA ASAMContoh uji No 10Laporan Praktikum Evaluasi Kimia Tekstil, Oleh : Ratih Rika Sugiharto (07K30028)7Kapas tidak tercelup, wool tercelup muda dan akrilat tercelup sangat mudaContoh uji No 24Laporan Praktikum Evaluasi Kimia Tekstil, Oleh : Ratih Rika Sugiharto (07K30028)7Kapas tercelup muda, wool tercelup paling tua dan akrilat tercelup mudaContoh uji No 42Laporan Praktikum Evaluasi Kimia Tekstil, Oleh : Ratih Rika Sugiharto (07K30028)7Kapas, wool,dan akrilat tercelup mudaDATA PENGUJIAN IDENTIFIKASI ZAT WARNA BASAContoh uji No 10Laporan Praktikum Evaluasi Kimia Tekstil, Oleh : Ratih Rika Sugiharto (07K30028)7Kapas dan akrilat tidak tercelup, sedangkan wool tercelup mudaContoh uji No 24Laporan Praktikum Evaluasi Kimia Tekstil, Oleh : Ratih Rika Sugiharto (07K30028)7Kapas, wool, dan akrilat tercelup mudaContoh uji No 42Laporan Praktikum Evaluasi Kimia Tekstil, Oleh : Ratih Rika Sugiharto (07K30028)7Kapas dan wool tercelup muda sedangkan akrilat tercelup tuaZat Warna Golongan IILaporan Praktikum Evaluasi Kimia Tekstil, Oleh : Ratih Rika Sugiharto (07K30028)7Identifikasi zat warna golongan II hanya dilakukan untuk zat warna bejana saja. Untuk identifikasi zat warna golongan II, III, dan IV digunakan tiga kain contoh uji yang sama yaitu kain No 14A, 33A, dan 42A.Pada identifikasi zat warna golongan II digunakan pereaksi NaOH 10%, Na-hidrosulfit, dan NaCl. Prinsip pengujiannya sama yaitu dengan melunturkan contoh uji dalam larutan NaOH 10% kemudian dipanaskan sampai masing-masing contoh uji larut. Na-hidrosulfit ditambahkan setelah contoh uji larut dan dipanaskan lagi selama 1 menit. Dalam pengujian ini digunakan kapas putih sebagai serat untuk mengidentifikasi pencelupan lunturan contoh uji. Penambahan NaCl berfungsi untuk menambah penyerapan zat warna pada kapas. Zat warna bejana akan mencelup kapas seperti warna semula tetapi lebih muda. DATA PENGUJIAN IDENTIFIKASI ZAT WARNA BEJANAContoh uji No 14AKain kapas putih tercelup kembali seperti warna contoh uji tetapi lebih muda setelah dicelup dengan lunturan contoh uji no 14Laporan Praktikum Evaluasi Kimia Tekstil, Oleh : Ratih Rika Sugiharto (07K30028)7AContoh uji No 33AKain kapas putih tidak tercelup kembali ke warna semula, kapas putih berubah warna menjadi warna kuning muda, hal ini menunjukkan contoh uji No 33A tidak menggunakan zat waLaporan Praktikum Evaluasi Kimia Tekstil, Oleh : Ratih Rika Sugiharto (07K30028)7rna bejana dalam pencelupannyaContoh uji No 42ALaporan Praktikum Evaluasi Kimia Tekstil, Oleh : Ratih Rika Sugiharto (07K30028)7Sama halnya dengan contoh uji no 33A, kain kapas putih tidak tercelup sama sekali oleh lunturan contoh uji, warnanya tetap putih seperti sebelum dicelup, ini menandakan contoh uji no 42A tidak dicelup dengan zat warna bejanaZat Warna Golongan IIILaporan Praktikum Evaluasi Kimia Tekstil, Oleh : Ratih Rika Sugiharto (07K30028)7Zat warna golongan III yang akan diuji hanyalah zat warna naftol saja. Praktikan mendapatkan 3 lembar kain yang sama seperti uji zat warna bejana. Pada uji zat warna golongan III masing-masing contoh uji dimasukkan dalam tabung reaksi yang berisi NaOH 10% dan Na2S2O4 kemudian dipanaskan. Hasilnya semua zat warna golongan II akan rusak ditandai dengan perubahan warna yang tidak akan kembali ke warna semula setelah oksidasi.Kapas naftol dan NaCl kemudian dimasukkan dalam lunturan contoh uji dan dipanaskan kembali, hasilnya menunjukkan kapas naftol yang dicelup dengan lunturan kain 14A warnanya kembali seperti semula tetapi lebih muda, kapas naftol yang dicelup dengan lunturan kain No 33A warnanya menjadi kuning muda sedangkan kapas naftol yang dicelup dengan lunturan kain No 42A warnanya menjadi putih kusam. Pengujian selanjutnya adalah melihat kapas dibawah sinar ultra violet dan hanya kapas yang dicelup dengan lunturan contoh uji no 33A yang berpendar.DATA PENGUJIAN IDENTIFIKASI ZAT WARNA NAFTOLContoh uji No 14AKapas naftol tercelup kembali seperti warna semula tetapi lebih muda, warnanya tidak berpendar setelah dilihat dibawah sinar UVLaporan Praktikum Evaluasi Kimia Tekstil, Oleh : Ratih Rika Sugiharto (07K30028)7Contoh uji No 33AKapas naftol tercelup menjadi warna kuning, warna ini tidak sama dengan warna contoh uji, kapas naftol warnya berpendar setelah dilihat dibLaporan Praktikum Evaluasi Kimia Tekstil, Oleh : Ratih Rika Sugiharto (07K30028)7awah sinar UVContoh uji No 42AKapas naftol tidak tercelup, warna kapaLaporan Praktikum Evaluasi Kimia Tekstil, Oleh : Ratih Rika Sugiharto (07K30028)7s naftol menjadi putih kusam dan tidak berpendar setelah dilihat dibawah sinar UVZat Warna Golongan IVLaporan Praktikum Evaluasi Kimia Tekstil, Oleh : Ratih Rika Sugiharto (07K30028)7Masih menggunakan kain contoh uji yang sama seperti identifikasi zat warna bejana dan zat warna naftol. Pada pengujian zat warna reaktif ini tidak digunakan pelarut DMF 100% dan DMF 1:1 melainkan langsung pada pengujian uji penentuan zat warna reaktif 1 dan 2. Pada uji penentuan 1 digunakan pelarut NaOH 10% dan H2SO4 10% sedangkan serat yang digunakan dalam pengujian ini adalah serat wool. Pada uji zat warna reaktif, wool akan tercelup kembali setelah dicelup dengan lunturan contoh uji. Hasil uji penentuan ini semua serat wool tercelup dalam lunturan contoh uji baik N0 14A, 33A, dan 42A. Karena hasilnya sama maka dilakukan uji penentuan 2 yaitu dengan menggunakan pereaksi campuran larutan Na2SO4 + H2SO4 yang dipanaskan. Dengan cara yang sama, wool kembali dicelup dalam lunturan masing-masing contoh uji kemudian dipanaskan kembali. Hasilnya serat wool hanya tercelup dalam lunturan contoh uji no 42A.DATA PENGUJIAN IDENTIFIKASI ZAT WARNA REAKTIFContoh uji No 14APada uji penentuan 1 serat wool tercelup lebih muda dLaporan Praktikum Evaluasi Kimia Tekstil, Oleh : Ratih Rika Sugiharto (07K30028)7aripada warna contoh uji, sedangkan pada uji penentuan 2 serat wool tidak terwarnai/tercelupContoh uji No 33ALaporan Praktikum Evaluasi Kimia Tekstil, Oleh : Ratih Rika Sugiharto (07K30028)7Pada uji penentuan 1 serat wool tercelup lebih muda daripada warna contoh uji, sedangkan pada uji penentuan 2 serat wool tidak terwarnai/tercelupContoh uji No 42APada uji penentuan 1 dan uji penentuan 2 serat wool tercelup/terwarnai lebih muda daripada warna contoh uji asalnyaLaporan Praktikum Evaluasi Kimia Tekstil, Oleh : Ratih Rika Sugiharto (07K30028)7KESIMPULANPada pengujian zat warna direk, kapas tercelup lebih tua dibandingkan pada wool dan akrilatPada pengujian zat warna asam, wool tercelup lebih tua dibandingkan pada kapas dan akrilatPada pengujian zat warna basa, akrilat tercelup lebih tua dibandingkan pada kapas dan woolPada pengujian zat warna golongan II, contoh uji tercelup kembali seperti warna semula yaitu kapas tercelup lebih muda dari warna semula. Contoh uji No 10 menggunakan zat warna direk dalam pencelupannya.Contoh uji No 42 menggunakan zat warna basa dalam pencelupannya.Contoh uji No 24 menggunakan zat warna asam dalam pencelupannya.Contoh uji No 14A menggunakan zat warna bejana dalam pencelupannya.Contoh uji No 42A menggunakan zat warna reaktif dalam pencelupannya.Contoh uji No 33A menggunakan zat warna naftol dalam pencelupannya.DAFTAR PUSTAKADede Karyana, S.Teks, M.Si. 2008. Pedoman Praktikum Laboratorium Evaluasi Kimia. Bandung : Sekolah Tinggi Teknologi Tekstil.P. Soepriyono, S.Teks, dkk. 1973. Serat-Serat Tekstil. Bandung : Institut Teknologi Tekstil.Wibowo Moerdoko, S.Teks, dkk. 1975. Evaluasi Tekstil bagian Kimia. Bandung : Institut Teknologi Tekstil.