Identifikasi protein

download Identifikasi protein

of 73

  • date post

    11-Jul-2015
  • Category

    Documents

  • view

    197
  • download

    5

Embed Size (px)

Transcript of Identifikasi protein

PROSES PENGHILANGAN KANJI ( DESIZING )Laporan Praktikum Evaluasi Kimia Tekstil, Oleh : Ratih Rika Sugiharto (07K30028)7IDENTIFIKASI ZAT WARNA PADA SERAT POLIESTER DAN CAMPURANMAKSUD DAN TUJUANMAKSUDMengetahui jenis zat warna yang digunakan untuk mencelup kain dari serat polyester dan campuran dengan menggunakan pengujian zat warna tertentu.TUJUANMengidentifikasi zat warna pada serat polister meliputi zat warna dipersi carrier, dispersi thermosol, dispersi azo,azo, dan bejana.Mengidentifikasi zat warna pada serat campuran meliputi zat warna direk dan reaktif.TEORI DASARPada umumnya, serat polister diwarnaidengan zat warna dispersi, kation, bejana, pigmen dan zat warna yang dibangkitkan.Serat PolyesterLaporan Praktikum Evaluasi Kimia Tekstil, Oleh : Ratih Rika Sugiharto (07K30028)7n HOOCCOOH + n HOCH CH OHOHOCCOO(CH ) OnH + (2n-1) H OAsam TereftalatEtilena GlikolPoliester n HOOCCOOH + n HOCH CH OHOHOCCOO(CH ) OnH + (2n-1) H OAsam TereftalatEtilena GlikolPoliester Serat poliester merupakan suatu polimer yang mengandung gugus ester dan memiliki keteraturan struktur rantai yang menyebabkan rantai-rantai mampu saling berdekatan, sehingga gaya antar rantai polimer poliester dapat bekerja membentuk struktur yang teratur. Serat polyester berasal dari asam tereftalat dan etilena glikol yang reaksinya sebagai berikut : Poliester merupakan serat sintetik yang bersifat hidrofob karena terjadi ikatan hidrogen antara gugus OH dan gugus COOH dalam molekul tersebut. Oleh karena itu serat polierter sulit didekati air atau zat warna. Serat ini dibuat dari asam tereftalat dan etilena glikol.Serat poliester adalah suatu serat sintetik yang terdiri dari polimer-polimer linier. Serat tersebut pada umumnya dikenal dengan nama dagang dacron, teteron, terylene. Dacron dibuat dari asamnya dan reaksinya dapat ditulis sebagai berikut : nCH3COOC COOH + nHO(CH2)2OH Dimetil tereftalat Etilena glikolHO OC COO(CH2)2O H + (2n-1)CH3On Dacron Sumber : Soeprijono P, dkk. Serat-Serat Tekstil. ITT. 1972. Halaman 279.Sedangkan terylene dibuat dari dimetil ester asam tereftalat dengan etilena glikol dan reaksinya sebagai berkut :nCH3O.OCCO.OCH3 + nHO(CH2)2 OH Asam TereftalatEtilena glikol CH3O OC COO(CH2)2OH + (2n-1) H2On TeryleneSumber : Soeprijono P, dkk. Serat-Serat Tekstil. ITT. 1972. Halaman 280. Untuk dapat mendekatkan air terhadap serat yang hidrofob, maka kekuatan ikatan hidrogen dalam serat perlu dikurangi. Kenaikan suhu dapat memperbesar fibrasi molekul, akibatnya ikatan hidrogen dalam serat akan lemah dan air dapat mendekati serat. Disamping sifat hidrofob, faktor lain yang menyulitkan pencelupan ialah kerapatan serat poliester yang tinggi sekali sehingga sulit untuk dimasuki oleh molekul zat warna. Derajat kerapatan ini akan berkurang dengan adanya kenaikan suhu karena fibrasinya bertambah dan akibatnya ruang antar molekul makin besar pula. Molekul zat warna akan masuk dalam ruang antar molekul .Sifat sifat serat poliester adalah sebagai berikut ;SifatPenjelasanKekuatan dan mulurKekuatannya 4,0 6,9 g/d, mulur 11 20%.Moisture Regainkondisi standar 0,4%. Di RH 100% MR 0,6 0,8%.ModulusModulus awal tinggi. Pembebanan 0,9 g/dn poliester mulur 1 %,pembebanan 1,75 g/dn mulur2 %.Berat Jenis1,38 gram/cm3Zat kimia dan SuhuPoliester tahan asam lemah, tahan asam kuat dingin, tahan basa lemah, kurang tahan basa kuat, tahan zat oksidasi, alkohol, keton, sabun, dan zat-zat untuk pencucian kering. Larut dalam meta-kresol panas,asam trifluroasetat-orto-khlorofenol, campuran 7 bagian berat trikhlofenol dan 10 bagian fenol dan campuran 2 bagian berat tetrakhloro etana dan 3 bagian fenolZat Penggelembungmenggelembung dalam larutan 2% asam benzoat, asam salisilat, fenol dan meta-kresol dalam air; dispersi 0,5% monokhlorobenzena, p-dikhlorobenzena, tetrahidronaftalena, metil benzoat dan metil salisilat dalam air ; dispersi 0,3% orto-fenil-fenol dan para-fenilfenol dalam air.Titik LelehPada suhu 250 - 290oC dan terbakar.Sifat BiologiPoliester tahan serangga, jamur dan bakteri.Tahan SinarKurang tahan sinar tapi masih lebih baik dibanding serat lainnyaMengkeretDalam air mendidih akan mengkeret sampai 7%.Pembakarantidak meneruskan pembakaranHeat SetDimensi kain poliester dapat distabilkan dengan cara heat settingZat Warna DispersiLaporan Praktikum Evaluasi Kimia Tekstil, Oleh : Ratih Rika Sugiharto (07K30028)7Zat warna dispersi adalah zat warna organik yang dibuat secara sinteteik. Kelarutannya dalam air kecil sekali dan larutan yang terjadi merupakan larutan dispersi atau partikel-partikel zat warna yang hanya melayang dalam air. Zat warna dirpersi merupakan senyawa aromatik yang mengandung gugus-gugus hidroksi atau amina yang berfungsi sebagai donor atom hidrogen untuk mengadakan ikatan dengan gugus karbonil dalam serat. Zat warna ini dipakai untuk mewarnai serat-serat tekstil sintetik yang bersifat termoplastik atau hidrofob. Absorbsi dalam serat solid solution yaitu zat padat larut dalam zat padat. Dalam hal ini zat warna merupakan zat terlarut dan serat merupakan zat pelarut. Kejenuhannya dalam serat berkisar antara 30 - 200 mg per gram serat.Sifat Umum Zat Warna DispersiZat warna dispersi meripakan zat warna yang terdispersi dalam air dengan bantuan zat pendispersi. Adapun sifat-sifat umum zat warna dispersi adalah sebagai berikut : Zat warna dispersi mempunyai berat molekul yang relatif kecil (partikel 0.5 2 Laporan Praktikum Evaluasi Kimia Tekstil, Oleh : Ratih Rika Sugiharto (07K30028)7)Bersifat non-ionik walaupun terdapat gugus-gugus fungsional seperti NH2Laporan Praktikum Evaluasi Kimia Tekstil, Oleh : Ratih Rika Sugiharto (07K30028)7, -NHR, dan OH. Gugus-gugus tersebut bersifat agak polar sehingga menyebabkan zat warna sedikit larut dalam air. Kelarutan zat warna dispersi sangat kecil, yaitu 0.1 mg/l pada suhu 80 oLaporan Praktikum Evaluasi Kimia Tekstil, Oleh : Ratih Rika Sugiharto (07K30028)7C.Tidak mengalami perubahan kimia selama proses pencelupan berlangsung.Laporan Praktikum Evaluasi Kimia Tekstil, Oleh : Ratih Rika Sugiharto (07K30028)7Penggolongan Zat Warna DispersiBerdasarkan struktur kimianya, zat warna dispersi terbagi menjadi tiga golongan yaitu :Golongan Azo N=NNHH N Dispersol Diazo Black ASN=NNHH N Dispersol Diazo Black ASOHONHCH H CHNOOHDuranol Blue BOHONHCH H CHNOOHDuranol Blue BGolongan Antrakinon NHSO NHO NDispersol Yellow TNHSO NHO NDispersol Yellow TGolongan Difenil AminaBerdasarkan ketahanan sublimasinya, zat warna dispersi terbagi menjadi empat golongan yaitu : Golongan ALaporan Praktikum Evaluasi Kimia Tekstil, Oleh : Ratih Rika Sugiharto (07K30028)7Zat warna dispersi golongan A mempunyai berat molekul kecil, sifat pencelupannya baik kaena mudah terdispersi dan mudah masuk kedalam serat. Tersublim penuh pada suhu 120 oC. Pada umumnya dipergunakan pada pencelupan dengan metode carier dan HT/HP.Golongan BLaporan Praktikum Evaluasi Kimia Tekstil, Oleh : Ratih Rika Sugiharto (07K30028)7Ukuran molekul sedang, tersublim penuh pada suhu 180 oC. Sangat baik untuk pencelupan polyester dengan metode carrier maupun metode HT/HP (130 oC).Golongan CLaporan Praktikum Evaluasi Kimia Tekstil, Oleh : Ratih Rika Sugiharto (07K30028)7Ukuran molekulnya besar, tersublim penuh pada suhu 200 oC. Dapat dipergunakan untuk pencelupan dengan metode carrier, suhu tinggi, maupun metode thermosol dengan hasil yang baik. Golongan DLaporan Praktikum Evaluasi Kimia Tekstil, Oleh : Ratih Rika Sugiharto (07K30028)7Zat warna golongan D mempunyai berat molekul yang paling besar, sehingga mempunyai sifat pencelupan yang paling jelek karena sukar terdispersi dalm larutan dan sukar masuk ke dalam serat.Tersublim penuh pada suhu 220 oC, Zat warna ini sangat baik untuk penceluapn dengan metode suhu tinggi dan termosol. Zat Warna BejanaLaporan Praktikum Evaluasi Kimia Tekstil, Oleh : Ratih Rika Sugiharto (07K30028)7Zat warna bejana tidak larut dalam air dan tidak dapat langsung mencelup serat tanpa suatu modifikasi, oleh karena itu dalam pencelupannya harus diubah menjadi bentuk leuko yang larut. Senyawa leuko tersebut memiliki subtantivitas terhadap selulosa hingga dapat tercelup. Adanya oksidator atau oksigen dari udara, bentuk leuko yang tercelup dalam serat tersebut akan teroksiadasi kembali kebentuk semula yaitu pigmen zat warna bejana. Senyawa-senyawa leuko mempunyai warna yang lebih muda dan berbeda dengan warna aslinya. Zat warna bejana mudah terhidrolisa dalam suasana asam dan suhu tinggi, zat warna bejana stabil dalam larutan alkali. Senyawa leuko zat warna bejana golongan indigoida larut dalam alkali lemah sedangkan golongan antarkuinon hanya larut dalam alkali kuat dan hanya sedikit berubah warna dalam larutan hipoklorit. Umumnya zat warna turunan tioindigo dan karbasol warna hampir hilang dalam uji hipoklorit dan didalam larutan pereduksi warnanya menjadi kuning. Ikatan zat warna bejana dengan serat antara lain ikatan hydrogen dan ikatan sekunder (gaya-gaya van Der Waals dengan serat). Zat Warna DirekLaporan Praktikum Evaluasi Kimia Tekstil, Oleh : Ratih Rika Sugiharto (07K30028)7Zat warna direk umumnya adalah senyawa azo yang disulfonasi, zat warna ini disebut juga zat warna substantive karena mempunyai afinitas yang besar terhadap selulosa. Beberapa zat warna direk dapat mencelup serat binatang berdasarkan ikatan hydrogen. Zat warna direk umumnya mempunyai ketahanan yang kurang baik terhadap pencucian sedangkan ketahanan terhadap sinar cukup, tidak tahan terhadap oksidasi dan rusak oleh zat pereduksi.Zat Warna ReaktifLaporan Praktikum Evaluasi Kimia Tekstil, Oleh : Ratih Rika Sugiharto (07K30028)7Zat warna reaktif adalah zat warna yang dapat mengadakan reaksi dengan serat, sehingga zat warna tersebut merupakan bagian dari serat. Oleh karena itu zat warna ini mempunyai ketahanan cuci yang baik.